You are currently viewing Revolusi Mental Menghadapi Pandemi Covid19
REVOLUSI MENTAL MENGHADAPI PANDEMI COVID19

Revolusi Mental Menghadapi Pandemi Covid19

  • Reading time:5 mins read

Simply da Flores

Revolusi mental adalah ungkapan yang didengungkan Jokowi saat kampanye Pilpres periode pertama. Programnya, Nawacita. Bagaimana makna dan implementasi Revolusi Mental selama masa pemerintahan Jokowi periode pertama, masing-masing warga bisa menyatakan pengalamannya. Hal yang sama, juga dengan program Nawacita.

Pada periode kedua Pemerintahan Jokowi, saya teringat dengan semboyan “kerja – kerja – kerja” untuk kabinet Jokowi. Baru mulai bekerja membangun negeri, ternyata bangsa negara Indonesia dilanda pandemi covid19, seperti juga di berbagai negara lain di dunia. Hingga saat ini, pandemi covid19 semakin gawat, angka kematian meningkat dan jumlah yang terpapar terus melonjak serta semakin ganas mengkhawatirkan.

Bagaimana melihat fakta pandemi covid19 di negeri kita dan apa yang harus dilakukan setiap orang untuk menyelamatkan kehidupan ?

*Menelisik Fakta pandemi covid19*

Asalnya pandemi covid19, sampai sekarang tidak ada yang tahu pasti. Banyak teori dikemukakan, bahkan ada yang saling menuduh dan mempersalahkan. Ketika berbagai silang selisih pendapat merebak di media sosial dan pemberitaan publik, ratusan juta korban terpapar dan jutaan meninggal di seluruh dunia.

Kebijakan pencegahan dan pengobatan, juga penguburan korban dibuat di masing-masing negara. Alat kesehatan dan aturan dibuat pemerintah NKRI untuk melindungi dan mencegah pandemi, mengobati yang terpapar dan menguburkan yang mati. Proses sedang berjalan, diupayakan jalan keluar terbaik bagi segenap warga.

Namun di lain pihak ada respon berbeda-beda dalam masyarakat kita. Ada yang sadar, mengikuti protokol kesehatan dan mematuhi aturan. Ada yang masa bodoh dengan berbagai alasan. Ada yang tidak percaya kepada pemerintah, bahkan dengan labtang melawan aturan yang ditetapkan. Alasan penolakan pun macam-macam. Atas dasar agama, dendam karena perbedaan pilihan politik, atau soal suka dan tidak suka. Ada yang melakukan demo dan tindak kekerasan kepada petugas kesehatan dan satgas covid19.

Yang membingungkan dan aneh adalah kasus korupsi bantuan sosial untuk penangan pandemi, juga soal simpang siur bisnis alkes dan obat. Lain lagi soal vaksin dan pelaksanaannya. Ada beraneka sikap dalam masyarakat bangsa kita. Lalu soal perbedaan informasi dan kebiajakan dari tingkat nasional ke masing-masing propinsi, kabupaten dan desa. Akibatnya, sebaran pandemi covid19 sulit dikendalikan hingga saat ini.

Fakta yang tercatat, yang terpapar dan yang sudah meninggal akibat pandemi covid19 adalah tidak mengenal umur, jabatan, agama, profesi, tempat tinggal dan kelas sosial. Artinya wabah ini mengancam nyawa semua orang, belum diketahui sumbernya virus, muncul dan berkembang varian baru covid, dan tidak tahu kapan berakir. Pandemi covid19 makin mengganas mengancam nyawa semua orang di seluruh dunia.

Menurut pemberitaan di media sosial, saya menyimpulkan bahwa di masyarakat bangsa kita NKRI, ada dua model sikap menghadapi pandemi covid19. Ada yang sadar dan yakin akan bahaya, lalu mau disiplin diri untuk mencegah dan mwngobati, demi keselamatan hidup. Ada yang lain kurangbatau tidak percaya dengan bahaya pandemi covid19, lalu masa bodoh bahkan melawan prokes yang diatur pemerintah.

Ada yang menggunakan keadaan pandemi ini untuk kepentingan politik, korupsi dan dagang mencari untung di atas penderitaan orang lain. Nasib kebanyakan rakyat yang sederhana menjadi ketakutan dan terombang-ambing dengan sebaran hoaks dan issue negatif yang sungguh menyesatkan.

*Revolusi Mental*

Hemat saya, setelah menelisik fakta pandemi covid19, tuntutannya adalah Revolusi Mental. Jika sayang kepada kehidupan diri dan sesama, maka hanya ada jalan tunggal yakni Revolusi Mental.

Revolusi Mental adalah mengubah diri secara radikal untuk menjaga kesehatan raga, emosi, cara berpikir, pola perilaku karena kesadaran nurani dan jiwa untuk menyayangi kehidupan pribadi dan sesama.

Mengapa harus Revolusi Mental ? Jawabannya antara lain: secara normal tidak ada yang minta becana dan penyakit wabah pandemi covid19. Juga tidak ada yang berdoa minta mati secara massal di seluruh dunia. Belum ada data pasti dari mana datangnya covid19, apa obat termanjur dan kapan selesai pandemi ini.

Karena itu, Revolusi Mental adalah jalan terbijak saat ini untuk menghadapi pandemi, agar bisa melanjutkan hidup di tengah sesama dan alam lingkungan. Semua manusia ditagih untuk mengubah diri secara hakiki dan radikal, dalam mengelola hidupnya, dalam relasi dengan sesama, alam lingkungan. Dan sudah saatnya semua manusia digugat untuk menyadari, mengakui dan menentukan sikap di hadapan Sang Pemilik kehidupan serta alam semesta ini.

Revolusi Mental adalah upaya dari dalam diri secara sadar dan radikal untuk menghargai kehidupan, mengakui ketergantungan mutlak kepada alam lingkungan; karena sadar untuk bersyukur kepada Sang Pencipta dalam iman sesuai kepercayaan, adat budaya dan agama masing-masing.

Revolusi Mental adalah jalan kembali ke hakekat, ke prinsip dasar realitas dan kembali ke asal dan rujuan kehadiran kita manusia di alam ini.

Pandemi covid19 yang berkembang biak dan makin mengganas, adalah penyelenggaraan Sang Pencipta untuk menyadarkan manusia di dunia tentang hakekat diri, asal dan tujuannya; teristimewa soal rasa hormat dan cinta kepada kehidupan yang dianugerahkan.

Revolusi Mental, bukan lagi ungkapan himbauan pemerintah atau slogan politik. Pada saat pandemi covid19 ini, Revolusi Mental adalah panggilan hakekat alamiah manusia untuk pertobatan diri dan bersama, jika masih menyayangi anugerah kehidupan dalam diri masing-masing, dan bersama-sama di tengah alam semesta.

Akhirnya, menurut saya, Revolusi Mental adalah kesadaran totalitas diri untuk berubah secara hakiki dan radikal lalu kembali kepada Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Sang Penyelenggara segenap ciptaan di alam semesta ini.
Jika tidak mau melakukan Revolusi Mental, maka pilihannya adalah mengakhiri kehidupan diri dan sesama sebagai mangsa pandemi covid19.
Mari saling mendoakan dan saling menopang untuk melakukan Revolusi Mental demi kehidupan yang lebih bermartabat dan damai sejahtera.

Sumber : www.mediasi-news.com

Leave a Reply