Sejak lama bangsa ini memimpikan Indonesia menjadi bangsa yang maju, makmur dan berdaya.
Melalui tangan Jokowi, mimpi-mimpi itu pelan-pelan diwujudkan.
Membangun dan terus bekerja, sampai ia sendiri lupa, sudah sedemikian banyak pembangunan yang telah dihasilkannya.

Jokowi tidak ingin disebut sebagai bapak infrastruktur Indonesia.
Justru Jokowi sering menyorongkan Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR menyandang sebutan itu.Kenapa begitu? Pertama, karena Jokowi rendah hati. Yang kedua, ia tidak ingin berhenti pada hasil fisik belaka.
Jika melihat lebih luas, Jokowi memang tidak hanya membangun infrastruktur, tapi merombak tatanan. Keterbatasan infrastruktur hanyalah salah satu masalah yang menimbulkan masalah lain. Terutama kemiskinan.

Di Indonesia Timur, nama Jokowi menjadi legenda.
Bagi kami, ia bukan sekadar presiden, tapi seorang yang visioner.
Manusia yang merasakan kepedihan manusia lain.
Wilayah yang diabaikan oleh negara dalam waktu yang sangat lama.
Untuk kami, kata-kata saja tidak cukup.

Dan Jokowi adalah figur yang tepat,ia pribadi yang tak banyak omong, ada masalah langsung di cari solusinya.Maka setiap mendatangi suatu wilayah, Jokowi akan bertanya kepada Kepala Daerah dan masyarakat disana “Kalian minta apa?”
Bagi Kepala daerah yang visioner yang mampu memanfaatkan peluang dan melihat jauh ke depan serta menimbang potensi dan manfaat jangka Panjang, ada yang minta bendungan, karena melihat potensi pertanian, ada yang meminta jalan, karena melihat potensi perekonomian,ada yang minta pelabuhan, bandara, pasar, stadion, sirkuit balap, Pariwisata dan seterusnya.

Bagi Masyarakat di Prvinsi Nusa Tenggara Timur, Hasil Pilpres 2019 yang lalu adalah bukti nyata.Jokowi menang telak 90% di NTT.
Semua orang di NTT sangat mencintai Jokowi.Kemenangan Jokowi di NTT atas Kecintaan Jokowi yang mampu Wujudkan Mimpi orang NTT, dibuktikan dalam kerja jelas dan kerja nyata bagi masyarakat NTT.

“Jadi bukan kami yang kerja, rakyat NTT cinta Jokowi. Kami hanya atur mereka agar datang ke TPS,” ujar Gubernur NTT Bapak Viktor B Laiskodat yang di rilis beberpa media 2019 yang silam saat selesai bertemu dengan Jokowi.Jokowi mampu wujudkan mimpi Indonesia, ya Indonesia maju yang di buktikan dengan kemampuannya mengeksekusi kebijakan.Dan NTT adalah salah satu bukti PERWUJUDAN MIMPI.

KARENA CINTA JOKOWI bagi INDONESIA TIMUR..“RAKYAT NTT SANGAT MENCINTAI JOKOWI”Dan inilah bukti respon masyarakat NTT secara objective akan bukti dan kerja nyata Jokowi sampai hari ini.Rakyat NTT masih mengharapakan ada kesempatan lagi diberikan bagi Jokowi untuk terus memimpin Indnesia periode kedepan.

Menyikapi arus dan dukungan dengan rasa cinta yang sangat nyata ini, maka lahirlah sebuah Komite Referendum Konstitusi NTT yang di prakarsai dan di inisiasi oleh Tokoh Politik dan Akademisi senior NTT yaitu Pius Rengka beserta beberapa elemen masyarakat, setelah mencermati dengan sangat serius aspirasi rakyat NTT, amat sangat luas tertangkap opini yang meminta agar batasan masa jabatan presiden perlu serius dikoreksi.

Koreksi atas batasan masa jabatan itu muncul kian marak menyusul kunjungan beruntun (10 kali) Presiden Jokowi ke NTT di masa kepemimpinan Viktor B. Laiskodat dan Josef Naesoi.
Lahirnya aspirasi luas masyarakat untuk mengoreksi periodesasi masa jabatan itu lantaran Presiden Jokowi bekerja sangat tuntas dan sangat luar biasa atas seluruh pawai pembangunan nasional selama ini, terutama pembangunan infrastruktur jalan raya,pariwisata sebagai penggerak ekonomi, infrastruktur pendukung pertanian & peternakan, sertifikasi hak kepemilikan tanah,dana desa, BLT dan sebagainya serta kecepatannya mengatasi problem bencana sosial dan bencana alam dan lain-lain.
Jokowi dinilai rakyat, sangat sensitive dan sangat decisive.

Arus tuntutan untuk mengubah periodesasi masa jabatan presiden yang menurut ketentuan UUD 1945 pada amandemen ketiga bahwa masa jabatan presiden tiap periode lima tahun dan dapat dipilih lagi hanya untuk masa jabatan dua periode. Teks ini tampaknya atau kesannya sebagai batasan demokratis, tetapi sesungguhnya ketentuan itu sangat bernuansa kooptatif dan sejenis pembajakan demokrasi rakyat.

Referendum adalah mekanisme politik sangat biasa untuk memurnikan kembali kedaulatan rakyat atau referendum adalah mekanisme paling demokratis untuk memulihkan hak-hak asasi manusia. Sembari dengan itu, referendum juga adalah kritik politik atas seluruh jenis kooptasi politik dan pembajakan demokrasi politik atau hijack politik demokrasi,”

Salam Perubahan,
Rakyat NTT Cinta Jokowi
Komite Referendum Konstitusi NTT

Pius Rengka
Ketua